| ㅤ | ㅤ |
|---|---|
| Dhiajeng Rahayu |
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
Dhiajeng
RAHAYU
YOGYAKARTA, 1998.

Untitled
Segala interaksi, cerita, dan hal yang berkaitan dengan karakter Dhiajeng Rahayu dan akun ini semata-mata untuk kepentingan roleplay dan datang dari imajinasi NILAKANDI. selaku penulis.Akan menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sebagai bahasa utama. Saya—NILAKANDI.— memohon maaf apabila terdapat kesalahan penulisan maupun penggunaan kata kedepannya.CATATAN:
Dimohon dengan sangat untuk tidak melakukan god-mod dan metagaming untuk karakter Dhiajeng Rahayu tanpa izin terlebih dahulu.
. . . / " . . . " (dalam karakter
[ . . . ] (di luar karakter)
NILAKANDI. (catatan penulis)
PENAFIAN—BAGIAN I
PENAFIAN
Karakter Dhiajeng Rahayu merupakan karakter fiksi buatan NILAKANDI. dan tidak terafiliasi secara langsung dengan Choi Heejin
PROFIL—BAGIAN II
PROFIL
Nama Lengkap : Dhiajeng Rahayu
Nama Panggilan : Ajeng
Tempat Lahir : Yogyakarta, Jawa Tengah, Indonesia
Tanggal Lahir : 25 Oktober 1998
Pekerjaan : Penulis buku anak
Domisili : Yogyakarta, Jawa Tengah, Indonesia
MBTI : ISFP
Zodiak : Scorpio
Golongan Darah : O

zendaya

hwasa

danielle

roseanne

han so hee

lily rose

Untitled
TENTANGNYA—BAGIAN III
Rembulan
DAN CERITA.
Menjadi penyiar radio selalu menjadi impian Rasti. Ia merasa hidupnya paling bahagia saat menceritakan berita-berita ringan seputar kehidupan sehari-hari, memutarkan lagu pilihan pendengar, hingga membacakan pesan-pesan manis yang masuk. Bahkan setelah ia menikahi Arya, pekerjaan itu tetap teguh digenggamnya. Arya yang terkenal tegas pada mahasiswanya tidak berkutik jika sudah berurusan dengan pasangan hidupnya itu. Apapun yang membuat istrinya bahagia, akan ia turuti. Hingga seorang malaikat kecil datang di kehidupan mereka. Impian Rasti kini berubah—bukan lagi menceritakan berita-berita terkini kepada pendengar, namun menceritakan kisah-kisah magis penuh pesan hidup hanya kepada dunianya, Dhiajeng Rahayu.
Ajeng kecil dengan pipi gembil tumbuh menjadi gadis kuat yang penuh mimpi. Cerita-cerita yang selalu dibacakan oleh Bundanya sebelum tidur dan nasihat-nasihat sarat makna dari Ayahnya banyak membentuk pandangannya akan dunia—sebuah tempat yang penuh harapan. Kedua manik coklat tua milik gadis itu selalu menatap dengan kilat semangat, kontras dengan senyum lembutnya. Ajeng selalu senang berteman. Ia merasa semua orang menarik, banyak cerita yang mereka bawa. Cerita yang membentuk mereka dan menuntun untuk hadir di hidupnya saat ini. Ajeng juga selalu senang mendengar. Ia dapat duduk berjam-jam hanya untuk mendengar teman-temannya bercerita. Hingga di sinilah ia sekarang, menjadi sosok penuh cerita yang sedang menggarap karya terbarunya sebagai penulis buku anak di balik nama Rembulan.

Rembulan
DAN KELAM
Ajeng tidak pernah tahu semangkuk bakso ikan yang telah dingin di meja makan malam itu akan menjadi masakan terakhir yang Bunda masakkan untuknya. Pun, ia tidak mengetahui kedatangannya yang terlambat dua jam karena penundaan jam terbang hari itu akan menjadi penyesalan terbesar seumur hidupnya.Seandainya, Ajeng menuruti kata Bunda untuk pulang sehari sebelumnya.Seandainya, Ajeng mengesampingkan tugas akhir-nya barang sehari saja.Seandainya, hari itu tidak terdapat hujan badai di ibukota. Seandainya, seandainya, seandainya...Kepalanya pening. Kejadian setengah dekade lalu terasa seperti baru terjadi kemarin. Lukanya masih basah, dan mungkin tidak akan pernah kering. Hanya tertutupi oleh kain tipis yang nanahnya akan terus merembes keluar. Bulir-bulir air menuruni pipi yang dulunya merona dan selalu dielus Bunda, Ajeng terduduk di samping kasur. Terisak dalam diam. Memukul dada berulang kali, berharap rasa sesak itu sedikit berkurang.“Nduk?” Ayah mengetuk pintu. Seakan mengerti anak semata wayangnya sedang hancur. Padahal Ajeng yakin Ayah tidak jauh berbeda. Ajeng masih ingat betul pertama kalinya ia melihat punggung Ayah yang selalu tampak sekokoh kayu jati itu bergetar, disusul isakan di malam yang hening. Ayahnya rapuh. Kayu jati yang dulunya menjadi pelindung dari terik matahari dan derasnya hujan itu runtuh, seakan diam-diam digerogoti jutaan rayap yang datang tanpa aba-aba.“Ya, Ayah. Ajeng sebentar lagi keluar. Ayah makan duluan aja, nggak apa-apa,” Ajeng membalas, berusaha sekuat tenaga menahan tangisnya. Terdengar hembusan napas berat di luar kamar sebelum Ayah membalas, “Ayah tunggu kamu di meja makan, ya, Nduk.”Jantung Ajeng serasa diremas. Ayah yang dulu selalu pulang di atas jam delapan malam, sekarang selalu pulang sebelum matahari terbenam, hanya untuk memastikan Ajeng tidak makan sendirian. Bahkan di tengah hancurnya, Ayah masih memikirkan anak semata wayangnya. Dan alasan itu cukup untuk membuat Ajeng tidak akan beranjak dari sisinya.